Mala, Fransiska (2025) ANALISIS KONSTRUKSI SOSIAL TRADISI MAHAR GADING GAJAH DALAM PERNIKAHAN SUKU LAMAHOLOT NTT PADA KOMUNITAS TALAIA DI YOGYAKARTA MELALUI PENDEKATAN PETER L BERGER DAN THOMAS LUCKMANN. Skripsi thesis, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
210710229_ABSTRAK.pdf
File (39kB)
210710229_BAB I.pdf
File (581kB)
210710229_BAB V.pdf
File (34kB)
210710229_DAFTAR PUSTAKA.pdf
File (55kB)
210710229_SKRIPSI FULL TEXT.pdf
Restricted to Registered users only
File (3MB) Request a copy
210710229_NASKAH PUBLIKASI.pdf
Restricted to Registered users only
File (202kB) Request a copy
Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Komunitas Talaia di
Yogyakarta secara sosial membangun dan mempertahankan tradisi mahar gading
gajah (Belo/Bala) dalam pernikahan mereka. Tradisi ini dianggap sebagai elemen
kunci dan penanda identitas suku, yang terus dilestarikan meskipun komunitas ini
hidup jauh dari kampung halaman asalnya di NTT. Kerangka teori yang digunakan
adalah Konstruksi Realitas Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, dengan
fokus pada proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi tradisi Belo/Bala
dalam konteks diaspora ini.
Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, studi ini berupaya
menggali secara mendalam makna, proses pelestarian, dan tantangan yang dihadapi
Komunitas Talaia di Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif
dan wawancara mendalam dengan 3 anggota TalaIa yang aktif dalam organisasi dan
sat sekarang bermukiman di kota Yogyakarta.
Hasil studi menunjukkan bahwa eksternalisasi tradisi Belo/Bala diwujudkan
melalui ritual pernikahan yang terstruktur dan pembahasan internal tentang standar
gading. Proses objektivasi terjadi saat komunitas membentuk konsensus kolektif
dan lembaga informal yang bertindak sebagai otoritas pelaksana tradisi, sehingga
nilai magis, historis, dan ekonomi gading menjadi realitas objektif yang mengikat.
Tahap internalisasi terlihat dari penerimaan anggota, terutama generasi muda, yangmelihat Belo/Bala sebagai simbol harga diri, status sosial, dan penguat kekerabatan.
Meskipun menghadapi kendala seperti mahalnya biaya dan keterbatasan gading.
Komunitas Talaia berhasil menyesuaikan dan merekonstruksi tradisi, membuktikan
bahwa realitas sosial tradisi ini bersifat dinamis. Singkatnya, penelitian ini
menyimpulkan bahwa Belo/Bala telah menjadi institusi sosial aktif yang
direproduksi secara terus-menerus demi menjaga identitas kultural Lamaholot.
| Dosen Pembimbing: | Nastain, M. | [error in script] |
|---|---|
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
| Additional Information/Lokasi Hardcopy: | Perpustakaan Kampus 3 UMBY |
| Uncontrolled Keywords: | Konstruksi Sosial, Mahar Gading Gajah (Belo/Bala), Suku Lamaholot, Komunitas Talaia, Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. |
| Subjects: | H Social Sciences > HE Transportation and Communications |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Komunikasi > Program Studi Ilmu Komunikasi |
| Depositing User: | Ilmu Komunikasi UMBY |
| Date Deposited: | 14 Aug 2026 02:24 |
| Last Modified: | 14 Aug 2026 02:24 |
| URI: | https://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/id/eprint/25158 |
